Jumat, 12 Juni 2015

PASAR TRADISIONAL KELURAHAN BLIMBING LAMONGAN AKHIRNYA DIBANGUN ( JUGA )



                                                                                     
                           Setelah sekian lama mengalami penundaan, akhirnya Pasar Kelurahan Blimbing resmi akan direhab. Rencana awal pembangunan pasar terbesar serta teramai di Pantura Lamongan Ini akan dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Hal ini ditegaskan dalam pertemuan Yang diselenggarakan oleh Perusahaan Daerah ( PD ) Pasar Lamongan lewat direkturnya yaitu Djoko Purwanto dan didampingi Kepala UPT  Pasar Si’un serta dihadiri Lurah Blimbing, Thoha Mansur, S.Pd, Camat Paciran Suharto, Kapolsek Paciran M. Ilham, Kapolsek Brondong Sunaryo Putro dan Jajaran Muspika Kecamatan Paciran serta Sekitar 150 Pedagang Pemilik Stand Pasar di Pendopo Kelurahan Blimbing, Jum’at, 12 Juni 2015.
                           Acara yang berlangsung guyup dan tertib ini juga merupakan sosialisasi dan pemaparan rencana penataan Pasar Blimbing dengan di tampilkannya gambar denah dan maket lewat slide proyektor. Selain itu, pertemuan ini juga sekaligus sharring antar pengelola dan para pedagang tentang apa yang sebenarnya yang dimaui para pedagang. Dalam sesi Tanya jawab, ditegaskan oleh M. Mufid A.E.W ( Ketua Paguyuban Pasar Blimbing ), atas aspirasi anggotanya menginginkan agar tidak merubah tatanan letak penempatan para pedagang yang ada saat ini meski dibangun lebih baik. Lebih lanjut, Mufid secara langsung menyambut baik pembangunan Pasar Blimbing yang langsung ditangani Pemda bukan oleh Investor sehingga pedagang bisa menempati kembali dengan gratis tanpa harus membeli stand hak pakai dengan harga yang melambung tinggi sehingga dikhawatirkan pedagang lma yang punya skala prioritas pertama untuk menempati stand tidak kuat membayar hingga diganti oleh orang yang berduit secara tidak langsung akan menggusur orang lama yang notabene pribumi local. “ ini merupakan kabar gembira buat kami, maka kami pun merespon rencana ini dengan baik dan kita perlu menjaga dan merawatnya dengan baik, baik kebersihan dan keamanannya “, Masih Menurut Mufid, Pria yang sekaligus menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMA Muhammadiyah 2 Blimbing Itu.
                     Dalam satu kesempatan yang lain, Salah seorang pedagang bernama Siti Kembang, mempertanyakan bagaimana dengan Pedagang yang tak memiliki Stand dan selama ini ngemper dilorong – lorong yang mempersempit jalan, supaya bisa difikirkan dan dialokasikan agar tidak menjadikan pasar menjadi sempit dan sesaki jalan. Masih dalam pertemuan itu, seorang pedagang lama, Imam Rosyidi menyampaikan uneg-unegnya tentang Surat kepemilikan Stand Pasar dirinya dan sekitar 70 Pedagang lama yang masih terlantung – lantung sampai sekarang, ini dikarenakan disaat sebelum reformasi dulu ada pendataan ulang oleh salah satu petugas yang tidak mendata kembali sekitar 70 orang pemilik stand dikarenakan oleh suatu sebab, sehingga para pedagang itu tidak terdata dan tak memiliki surat selembarpun sampai sekarang pada mereka adalah pemilik stand yang sah berhak menempati, lalu bagaimana nasibnya setelah nanti dibangun, apakah masih berhak menempati stand lama yang dimiliki.

Pasar Blimbing Saat Terjadi Banjir
Sosialisasi Pembangunan Pasar Blimbing Di Pendopo Kelurahan Blimbing
                       Dilain Fihak, ditegakan oleh Aris Anthoni, Ketua Karang Taruna Putra Bahari Kelurahan Blimbing, dirinya merasa lega kalau akhirnya Pasar Blimbing dibangun Tanpa ada gejolak dan polemik yang berarti, “ ini adalah langkah maju ketika semua berjalan dengan lancar, Pasar Blimbing memang sudah terlalu lama dibiarkan sehingga keadaannya sudah kumuh dan tak layak lagi, padahal disini perputaran roda ekonominya sangat tinggi, banjir dan persoalan sampah menjadi masalah dan semakin memperkumuh lingkungan pasar ”, Ungkap Aris Anthoni. Senada dengan Aris, dikatakan oleh Fairis Firdaus Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Ranting Blimbing, “ Masalah kemacetan Dan Sampah semoga juga dapat terurai setelah Pasar Blimbing dibangun, terutama masalah sampah, karena selama ini ketika ada sampah didepan halaman pasar, fihak pasar berkilah bahwa sampah itu bukan berasal dari pasar, tapi dari warga sekitar sehingga pernah waktu lebaran kemarin sempat ada sampah yang menggunung tak terurus didepan pasar, sedang dari pemerintah Kelurahan sendiri tak merasa mempunyai wewenang untuk membersihkannya, Ibaratnya Pasar Blimbing selama ini adalah langsana kedutaan Asing, yang meski berada di Kelurahan Blimbing tapi bukan Wilayah territorial Blimbing. Semoga semua masalah ini takkan pernah ada lagi ”.

                       Semua menyambut dengan baik tentang rencana pembangunan Pasar Blimbing terutama warga Kelurahan Blimbing yang Berjiwa 18. 000 Jiwa ini. Besar harapan Pembangunan Pasar Baru Blimbing dapat berdampak positif dan membawa membawa penigingkatan ekonomi warga Blimbing dan sekitarnya.  
Amazon - Fhoto By. Rzt - Adr ).



Sabtu, 10 Agustus 2013

SHOLAT IED DI KELURAHAN BLIMBING

SHOLAT IED DI KELURAHAN BLIMBING

                                                 Photo By. Andre And Putra Bahari Production

                  Sholat Ied, Atau yang biasa disebut wong Blimbing dengan Sholat Riyoyo, adalah Sholat yang ditunggu - oleh banyak orang ( meski Sholat Sunnah ) setelah sebulan menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan, maka saat - saat seperti inilah yang dinanti seiring kumandang Takbir, Tahmid dan Tahlil Bersahutan di penjuru kampung lewat Mushola dan Masjid. Lepas dari bagaimana puasa dan Ibadah lainnya masing - masing orang, nampaknya kalau sudah saatnya Idul Fitri menjadi kebahagiaan semua fihak. sudah tidak bakalan Kentara siapa yang Puasanya  paling oke, mana yang asal - asalan ( Karena Hanya Allah S.W.T lah Yang Maha Tahu ), Malah kadang - kadang yang lebih heboh Lebarannya malah yang Puasanya Biasa - biasa saja, semua itu tergantung bagaimana kita memaknai apa arti Idul Fitri sebagai Hari Kemenangan.
                   Aktifitas awalan setelah Terbitnya  Matahari Bulan Syawal adalah melakukan Sholat Iedul Fitri di Lapangan. Tentunya taklupa melakukan Sholat Shubuh sebelumnya. Dalam Sejarah Sholat Ied sendiri di Kelurahan Blimbing, Awalnya Tahun 70 s/d 80 an Cuma ada 2 Tempat. Yaitu, di Lapangan Dakir Kebonsari yang sebelah Selatan ( dulu namanya begitu ) sebelah selatan Pasar Baru Blimbing, dan Di Lapangan H. Sun'an Gowah Blimbing. Malah disekitar Tahun 60 an, Masyarakat Blimbing Malah melaksanakan Sholat Ied di Lapangan Jompong ( sekarang Depan Terminal Baru Brondong  yang Lapangan itu sekarang sudah tak tersisa lagi, yang nampak hanya Gudangnya UD. BML milik H. Tanoyo  ). Memasuki Tahun 80 an seiring Jumlah Penduduk yang makin berkembang, bertambah lagi menjadi 4 Tempat, ketambahan lagi 2 tempat di daerah selatan yaitu, di Lapangan Sidokumpul dan Di Halaman YTPI Sidorejo Blimbing ( Tanahnya H. Mukhid ). Tak berhenti sampai disini, saat Tahun 90 an Yayasan CB juga membuka tempat lokasi Sholat Ied juga, yaitu tepatnya di Halaman Lembaga Pendidikan Sultan Agung yang juga di Gowah cuma dibagian Selatan. Tahun 80 an lokasi Sholat Ied di Lapangan Dakir Vakum tak digunakan Lagi, seiring Lapanganya berubah jadi Sawah, Namun spontanitas warga sekitar ( Kebonsari ) akhirnya ada tempat pengganti yaitu di Halaman Masjid Al - Muslimun Kebonsari yang saat itu masih mampu menampung Jama'ah sekitar. tapi lambat laut seiring bertambahnya penduduk dan dapat digunakannya  Lapangan Utara lapangan Dakir, sekitar tahun 90 an akhirnya dari Masjid Al - Muslimun kembali ke lapangan, cuma kali ini bergeser keutara, selatan Pasar Pas. yang nama tempatnya menjadi Lapangan dr. Denny Vianto Kebonsari Blimbing.

                         Penyelenggaraan Sholat Ied, tetap menjadi Tanggung Jawab P2A ( Pusat Pengembangan Agama Islam ) Kelurahan Blimbing. cuma dalam pengelolaan Tempat hanya ada satu tempat yang dikelola langsung oleh P2A, Yaitu di Lapangan H. Sun'an Blimbing yang kepanitiaannya digilir kepada seluruh Musholla dan Masjid Se - Kelurahan Blimbing dan penentuannya ditentukan melalui  Rapat P2A, satu lokasi yaitu di Lapangan dr, Denny Vianto biasanya digilir oleh 3 Kepanitiaan, yaitu Ta'mir Masjid Al - Muslimun Kebonsari , Ta'mir Musholla Sabilillah Sremeng dan Ta'mir Musholla Al - Mabrur Kebonsari II Blimbing. sedang 3 tempat lain, pengelolaannya diserahkan sepenuhnya oleh Panitia Lokal Setempat. Satu khas dari Sholat Ied di Blimbing adalah di Lapangan H. Sun'an, saat itu sekitar tahun 90 an, jumlah jama'ahnya adalah terbanyak hampir 65 % penduduk Blimbing menunaikan Sholat Ied disini, sampai ada anggapan kurang Afdhol kalau tidak sholat ied disini, bahkan saking membludaknya jamaah, ( lapangan  yang saat itu masih begitu luasnya belum berdiri banyak bangunan seperti sekarang ini ) sampai meluber ke Jalan Raya Raya Deandles hingga tak lelahnya Panitia meneriakkan ajakan Masuk Lapangan, " Monggo.....NGALER MAWON, NGALER MAWON....". saat selesaipun macetnya luar biasa. Kondisi itu saat ini sudah sangat jauh berbeda.

 

                     Memasuki Tahun 2000 an, tepatnya Tahun 2009, Perkembangan Lokasi Sholat Ied bertambah lagi , Lokasi Baru adalah di Lapangan Kalbakal Blimbing. Penyelenggaraan dan Pengelolaan Lokasi Sholat Ied di Lapangan Kalbakal adalah Pimpinan Ranting Muhammadiyah Blimbing, Lokasi Ini sebenarnya Luas juga, hingga dapat menjadi tempat Alternatif ,  dengan makin membludaknya Jama'ah di lokasi lain seiring bertumbuhan jumlah penduduk Kelurahan Blimbing yang telah mencapai angka 18.000 Jiwa. Sampai saat ini Lokasi Sholat Ied di Kelurahan Blimbing Menjadi  6 Lokasi :

       1. Lapangan H. Sunan Gowah Blimbing
       2. Lapangan dr. Denny Vianto Kebonsari Blimbing
       3. Lapangan Sidokumpul Blimbing
       4. Halaman YTPI Sidorejo Blimbing
       5. Halaman Sultan Agung, Gowah Blimbing
       6. Lapangan Kalbakal Blimbing

                  Itulah sekilas sejarah Perkembangan Lokasi Sholat Ied Di Kelurahan Blimbing yang bisa menjadi sedikit Bahan pengetahuan buat cerita anak cucu kita kelak akan Tanah Kelahirannya Blimbing Tercinta karena menjadi Orang Blimbing Kurang Lengkap Kalau tak tahu seluk beluk yang ada didalamnya. ---Trims---

SELAMAT IDUL FITRI 1434 H 
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

 ( Script Writer And Photo. Andre Fairys Firdaus 11.08.2013 - 12.52 PM )


Minggu, 04 November 2012

TANTANGAN BESAR MENUJU KELURAHAN METROPOLITAN



   K
elurahan Blimbing dengan Luas Wilayah 1155,2 ha/m2 Dengan Jumlah penduduk lebih dari 17.000 Jiwa merupakan sebuah Kelurahan besar dengan Potensi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, perputaran roda Ekonomi yang tinggi pula. Tak heran menjadi daya tarik bagi penduduk luar untuk datang dan mengadu nasib disini. Laksana Ibukota Indonesia Jakarta yang selalu menjadi impian setiap orang untuk berpacu sukses disana, Blimbing pun tak ubahnaya seperti itu. Sampai saat ini tercatat sudah sekitar 3.000 Jiwa penduduk luar yang menetap di Blimbing, dan hampir lebih dari separuhnya legalitas kependudukannya masih belum resmi, entah itu hanya melapor dan tercatat di wilayah RT Setempat  ataupun izin menetap sementara dengan melapor ke Kelurahan. Kalau dipikir – pikir ya enak sekali untuk datang dan menetap di Blimbing, hanya sekedar cari kontrakan ataupun kost – kost an maka cukuplah untuk menetap di Blimbing. Berusaha disini, cari pekerjaan disini, buang sampah dan limbah disini, punya hasil banyak lalu bawa pulang di kampung masing – masing maka bisalah untuk sekedar menafkahi anak cucu dirumah. Enak juga kalu dipikir – pikir, toh kontribusi terhadap wilayah yang ditempati hampir pasti tak ada sama sekali.
                   Sudah Sunnatullah memang, bahwa setiap wilayah yang menjanjikan pasti akan banyak diminati dn diserbu orang, ibarat dimana ada tempat yang manis maka semutpun berduyun – duyun datang. Bukan sebuah kecemburuan sosial bukan pula menjadi anti terhadap kedatangan saudara – saudara dari luar daerah, toh Saudara kita yang asli Blimbing pun banyak yang hijrah ke negeri orang dan sukses disana, tapi bila dibanding dengan cerita saudara pribumi kita yang hijrah ke tempat orang lain dan sukses berusaha disana, sebenarnya mereka juga harus dituntut untuk taat dan patuh pada peraturan setempat, mulai dari kedatangan dengan melapor diri ke RT setempat dilanjut dengan mengurus kelengkapan adminisrasi surat – surat syarat kepindahan kependudukan sementara ataupun menetap, kalau tidak memenuhi itu jangan harap mereka bisa tinggal dan berusaha di wilayah itu, belum lagi mereka harus dituntut kontribusi kepeduliannya saat ada kegiatan di kampung setempat. Coba bandingkan dengan kondisi yang terjadi di Kelurahan Blimbing terhadap kondisi para pendatang di Wilayah Kelurahan Blimbing ?....menjadi sebuah fakta bertolak belakang bukan..!..Andai kita mencoba bayangin, yang mudah – mudahan tidak akan terjadi disini, andai kata  ada Teroris dan sejenisnya masuk ke wilayah ini, alangkah amannya dia bisa berleha – leha disini. Pernah suatu ketika Kita saat nyantai di warung kopi mendengar ucapan seorang pendatang kepada temannya yang baru saja datang ke Blimbing 2 Hari dan berencana membuka usaha Rombong Nasi Goreng, ketika Temannya yang masih baru itu bertanya pada temannya yang sudah lama tersebut tentang keberadaannya di sini mengenai legalitasnya, tapi apa jawab sang pendatang lama itu, “ Walah ndak usah lapor – laporan, buat apa malah bikin ribet dan pusing aja, disini itu enak ndak ada apa – apa, cukup lapor sama penyewa konrakan saja, aman..aman.....! “. Subhanallah tercengang kami mendengarnya, apa sudah sedemikiankah pandangan mereka tentang wilayah kita ini ?........
                 Ketika kita bertanya, salah siapa ini..?...apakah salah pejabat pemegang kekuasaan Kelurahan Blimbing ?.....Jawabnya Nggak Juga....Pada tahun 2008, saat Kepala Kelurahan Blimbing sekarang, Bapak Thoha Mansur, S.Pd. yang saat baru menjabat kurang dari 2 tahun, Beliau yang notabene waarga asli Blimbing yang mengetahui seluk beluk segala permasalahan di Blimbing, sudah mengeluarkan ide untuk mendata warga pendatang di Blimbing dengan menggagas Program KITAS atau Kartu Izin Tinggal Sementara dan sudah disosialisasikan ke Warga lewat RT dan beberapa Penduduk yang dijumpainya, sebenarnya ini ide bagus, tapi ternyata mengalami kendal ketika ide ini di Bawa ke Kabupaten dengan asumsi tidak ada dasar Hukam yang pasti untuk mengegolkan ide ini, “ Wong Blimbing status baru Kelurahan saja yang gak jauh beda taraf dengan Status Desa, Lamongan kota saja yang lebih besar dari  Blimbing tidak memberlakukan hal itu, lain dengan Surabaya ”. Cetus Pak Lurah Mansur Yang Berperawakan subur ini menirukan entah pejabat siapa di Kabupaten yang ketika menyampaikan hal ini. Tak sampai disitu, akhirnya Pak Lurahpun menyikapi dengan kebijakan lokal, dengan memberdayakan Ketua RT untuk lebih Pro aktif mendata Setiap perpindahan penduduk keluar masuk dan mendata Penduduk pendatang yang bermukim di wilayahya lewat rapat RT di Aula Kelurahan dan dibuatkan Kartu KITAS Di RT Masing – masing , tapi realitanya hanya beberapa RT saja yang menyikapi dan melaksanakan hal ini.
               Guna menuju Blimbing yang lebih baik lagi, seiring dengan bertambah padatnya penduduk Blimbing dan bertambah menariknya Bumi Blimbing sebagai daya tarik orang Luar Masuk, Maka sebenarnya kesiapan penduduk lokal sendiripun mulai perlu ditata dan dibenahi, Pertama, kesadaran akan keamanan lingkungan masing – masing, agaknya cukup pantas untuk mengaktifkan program Sistem kamanan lingkungan diwilayah masing – masing, bukan hanya berfikiran asal wilayah rumah sendiri dan keluarga saja yang aman tidak perduli dengan lingkungan sekitar. Kedua kesadaran akan lingkungan hidup, pola mem perlakukan lingkungan dalam membuang sampah dan limbah misalnya. perlu dibenahi, jangan membuang sampah di sungai, coba dilihat Kali Asinan di perbaasan dan kali – kali lainnya di Blimbing, rata – rata adalah penuh dengan sampah. Ketiga , Kepekaan sosial bermasyarakat juga perlu kita benahi bersama, selama ini masyarakat Blimbing yang sudah mulai berfikir individualistis hanya mementingkan diri sendiri sudah saatnya kembali menjadi masyarakat yang guyub rukun bergotong royong  mempunyai kepekaan sosial yang tinggi terhadap wilayahnya baik mengenai lingkungan, kehidupan bermasyarakat maupun kepedulian akan wilayahnya. Keempat, Tidak salah selalu kita menanamkan kembali nilai religi yang dalam berpegang teguh pada ajaran islam, karena apabila kita selalu menaati setiap ajaran keislaman, tentu perilaku kit bermasyarakat dan berkehidupan akan jauh dari hal – hal kurang baik.
               Semoga  dikemudian hari   Kelurahan Blimbing   dapat  berkembang  lebih segalanya dari sekarang  baik dari  berkehidupan, ekonomi , bernegara  dan  berketaan beragama guna terwujudnya Blimbing yang Metro ( Megah, Elok, tentram, Religi dan Optimis ), Amin.....

( Andre S Fairys ). Photo. Geogle Mapia, Emha Syukroni Nyonk.

Senin, 23 Juli 2012

 

ANJIR.........DULU DAN KINI

          Kata - Kata Anjir Mungkin hanya dimengerti Orang Pesisir Lamongan Utara terutama Masyarakat Blimbing Dan sekitarnya.  Anjir sendiri artinya adalah penanda, seseuai dengan fungsinya yang sebagai penanda Pintu masuk Nelayan Blimbing dan sekitarnya tatkala Telah sampai dari melaut dan mau memasuki Pelabuhan ataupun saat mau berangkat melaut keluar dari Pelabuhan. Dikasih Penanda Pintu Keluar / masuk ini adalah sangat penting sekali, karena disekitar penanda ini adalah jalan berliku penuh dengan batu karang yang sangat mengganggu serta membahayakan perahu / kapal  notabene adalah dengan keselamatan Para Neelayan ketika salah melewati daerah ini.

          Anjir dalam foto yang seperti kita lihat sekarang itu jauh berbeda dengan di zaman dulu saat nelayan masih traditional menggunakan layar. Anjir dulu dibuat dengan hanya Kayu Glugu ( Kayu Pohon Kelapa ) yang ditancapkan di Lokasi Penanda yang dikerjakan secara gotong royong oleh para nelayan, kalau dipikir entah bagaiman caranya bisa tertancap tanpa roboh oleh hembusan angin laut yang bisa jadi kadang - kadang begitu kencang dan terjangangan ombak deras yang mendera dan bisa berdiri kokoh laksana Sang Ksatria pilih tanding. Ketika Glugu sudah waktunya ganti, maka diganti oleh Instansi terkait menjadi dari Besi, berkembang Lagi Jumlahnya Menjadi 2 Buah dengan penanda warna merah dan hijau. Sekian lama dari besi sampai pernah Miring dan kondisinya sudah layak diganti, Saat itu Nelayan pun berteriak lewat Rukun Nelayan Masing - masing, Rukun Nelayan pun menyampaikan keluhan Nelayan tentang miringnya Anjir, sekian lama itu pula hanya sebatas usul tanpa segera dilaksanakan mulai tahap desakan maupun Pressure, tapi Syukur Alhamdulillah di Tahun 2012 ini akhirnya Anjir di perbaiki dengan perubahan dari sekedar besi menjadi bangunan menara mercusuar dari beton yang dilengkapi dengan Lampu Penanda tenaga surya. Bangunan ini masih sama jumlahnya 2 buah sisi kiri dan kanan dengan jalur tengah sebagai pintu keluar / masuk. 

             Sedikit riwayat, dulu Ketika Anjir masih berupa Glugu, sering dijadikan salah satu media Klenik Masyarakat dalam ritual yang sebenarnya menyesatkan dan bertentangan dengan ajaran Agama kita dengan arah meminta sesuatu selain ALLAH SWT, seperti tabur sesajen, Larung Kepala Sapi bahkan menyepi di Lokasi Glugu Anjir. Tapi Syukur Alhamdulillah Kebiasaan macam itu sudah tak ada lagi seiring pengertian masyarakat tentang mana yang sesatdan mana yang tidak, tentunya ini juga jasa para tokoh Masyarakat dan tokoh Agama yang tak pernah lelah berjuang memberantas hal ini lewat Dakwahnya.

         Anjir adalah sepele tapi sangat berguna dan bermanfaat bagi keselamatan Para Nelayan jadi kita anggap adalah sebagai salah satu fasilitas yang sangat vital bagi nelayan, maka tidak boleh diabaikan oleh instansi terkait, yang semestinya rusak sedikit saja harus mendapat perhatian yang sangat khusus apalagi biaya pembuatannya adalah sangat kecil, tak sebanding dengan besarnya kontribusi Nelayan bagi Kelangsungan Roda Pemerintahan, maka jangan abaikan Kepentingan / Kebutuhan serta Kesejahteraan Nelayan kita. Nelayan juga andil dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa karena makan ikan juga termasuk hal yang sangat begitu berguna.

( Script Writter. Andre S Fairys, Photo By. Roziq LA Wak Min )

( Senin, 4 Ramadhan 1433 H / 23 Juli 2012 ) 

Senin, 25 Juni 2012





BROKEN STONE ATAU WATU POKAK.......?

                    Broken Stone awalnya mungkin sekedar nama sebutan yang berasal dari para muda-mudi dengan maksud mengkerenkan nama sja tanpa ada maksud apapun, tapi anehnya perkembangannya bisa menjadi terkenal dan ringan dibibir untuk disebut kalau menyebut nama itu. Nama Bakunya sih ya Watu Pokak, dikerekan jadi Broken Stone ( Broken = Retak/Pecah, Stone = Batu ). lebih dalam mengkaji munculnya nama Broken Stone adalah berawal ketika Antara Tahun 2004-2008, di Kelurahan Blimbing ada sebuah Radio Komunitasnya Teman-teman L.A Mania Korwil 24 Blimbing Metro ( Suporter Persela Lamongan ) yang bernama Imagine Fm 93,2 Mhz. disitu para Fan's mengapreasikan dengan berkirim salam antar pendengar Via Sms dll, serta Fan's mengelompokkan diri dengan teman sekampungnya serta memberi nama kelompok itu. Contoh. LASER ( Laskar Sremeng ), S.O.B ( Sumur Ombe ), GANEZA ( Gank Niaga Exelent Zatu alias Jl. Niaga 1), Under Park ( Kebonsari Bawah ) ataupun Broken Stone. Dari sinilah nama itu membekas dihati awalnya dikalangan muda, tapi akhirnya menjadi Umum.


            Sudahlah itu  pengenalan sebuah nama Broken Stone, Sekarang Saya pingin berbagi sedikit Sejarah Broken Stone Alias Watu Pokak ini. Kalau suatu misal kita bertanya pada orang Blimbing Asli yang telah lama mengembara dan lam tak kembali pulang kerumah kayak Bang Toyib tentang apa yang terlintas difikirannya tentang Watu Pokak, maka dia akan menjawab, (maaf)  Watu Pokak adalah lokalisasi terbesar di Blimbing, generasi kedua setelah Lokalisasi Matari di Pasar Blimbing. tentunya orang perantauan yang kita tanya itu akan terkaget ketika kita cerita keadaan sesungguhnya sekarang dan bahwa lokalisasi watu pokak adalah masa lalu. Apapun sebab atau perantaranya, patutu kita syukuri bahwa Lokalisasi watu pokak akhirnya buyar dengan sendirinya seiring dengan perkembangan zaman tentunya ini tak lepas dari usaha para tokoh agama, tokoh masyarakat dan masyarakat itu sendiri yang ingin membersihkan Blimbing dari kemaksiatan tampak.

Watu Pokak sekarang adalah Sebuah Kampung nan asri berluas wilayah sekitar 8.500 M2 Di wilayah RT 05 / RW 010 sekarang memiliki jumlah Bangunan fisik sebanyak 105 Bangunan ( 8 Bangunan tidak ditempati, 8 Bangunan bukan Rumah, termasuk Kantor Kelurahan Blimbing), dengan jumlah KK Sebanyak 94 KK dengan jumlah Penduduk 355 Jiwa ( 176 Laki-laki, 179 Perempuan )==Data BPS sp 2010, (yang kebetulan saya sendiri yang dapat tugas sensus daerah ini==. Watu Pokak siap berkembang seiring perkembangan jumlah Penduduk Kelurahan Blimbing yang sudah semakin banyak sekitar Kurang lebih 17.000 Juta Jiwa. Saudara-saudara kita yang dulu tinggal di jantung kota sudah mulai menepi kedalam membuat rumah tempat tinggal di Blimbing bagian dalam termasuk diwilayah Watu Pokak ini. Apalagi Sekarang sudah ada jalan tembus Paving dari watu pokak menuju Sidorejo dan segera juga tembus menuju Sidokumpul. Semoga Masa Lalu yang kelam di Watu Pokak Alias Broken Stone tak terulang kembali disuatu hari nanti, dan semoga berkembang pesat menjadi Wilayah yang Produktif yang tentunya bisa juga mununjang berkembangnya pula Kemajuan Buat Wilayah Kelurahan Blimbing pada Khususnya dan Lamongan Pada Umumnya. Amiin........

Script n Fhoto By. Andre S Fairys. ( 25 June 2012 ) 

Senin, 04 Juni 2012



KAPE - KALI PEDOT..........( Uppsss.....Ada Kali Kok Pedot....)
        Sekilas Mendengar Nama ini Memang unik, Bagaimana tidak ada Kali alias Sungai tapi Pedot ( Putus ), tapi itulah realita di Kelurahan Blimbing memang benar-benar ada. Terletak di belahan timur wilayah Blimbing, berbatasan dengan Jl. Grenjeng dan Gowah sebuah kali ( Sungai ) yang akhirnya berkembang menjadi nama kampung. Sekarang kita kaji sejarah Kali ini, apakah memang dulu benar ada atau sebenarnya kali ini adalah bukan sebuah kali tapi sekedar Lubang saluran genangan air hujan semata. Menurut Beberapa sumber yang kami temui yang notabene adalah para Generasi lama yang mengalaminya secara langsung, maupun rekan sejawat seumuran kita sekarang yang telah mendapat cerita langsung dari Kakek Buyutnya, semua mengatakan bahwa Kalipedot itu sebenarnya tidak Ada. Jumlah sungai / kali yang ada di Kelurahan Blimbing ini awalnya ada 4 Buah, Pertama adalah Kali Asinan yang terletak diperbatasan dengan Kelurahan Brondong Lamongan, Kali Kedua adalah yang sekarang menjadi Jalan Kauman itu dan Ketiga Adalah Kali Duduk yang berbatasan dengan Dusun Dengok Kandangsemangkon Paciran, dan yang Keempat adalah Kali Di Jalan Grenjeng.  Terus dimana Letak Kali Pedot ?......KaliPedot itu adalah sebenarnya adalah sebuah saluran air ( Kalen )yang tidak seberapa besar namun letaknya memanjang dari Muara Laut jawa keselatan menyusuri Jl. Tanah Abang ( sekarang ), sampai di Gowah sebelah Barat. Lalu kenapa di Grenjeng sekarang menjadi sebuah Jalan ? itu  ceritanya adalah ada seorang yang kaya raya dan berpengaruh pada saat itu yang menukar tanahnya yang berada di sebelah barat saluran air kalipedot dengan separuh kali Grenjeng karena pada saat itu kali Grenjeng Lebarnya adalah 2 kali llipat dari yang sekarang dan menguruknyas separuh kali itu dengan maksud tanahnya yang disebelah baratnya menjadi bersatu tidak dibatasi oleh sebuah kali. Pada awalnya Salaran air kecil Kalipedot itu adalah menjadi pengganti kali Grenjeng dengan fungsi yang tak berubah tetap menjadi kali. lalu kenapa sekarang bis a Putus ( Pedot ).....itu adalah karena setelah kali grenjeng menjadi daratan, kali pengganti setelah digali dibiarkan begitu saja sehingga lama kelamaan ahirnya mengalami pendangkalan dan oleh perkembangan jaman Kali itu menjadi buntu kemudian menjadi daratan secara alami sampai akhirnya hanya tersisa  kurang lebih 6 M keselatan Jembatan yang dilalui Jl. Raya Deandles.  oleh warga setempat Kali itu dikenal menjadi Kali Pedot, sampe pada akhirnya pulalah menjadi nama sebuah Kampung. Itulah sedikit riwayat Kali Pedot yang oleh Anak-anak Muda sekarang disingkat Menjadi KAPE.
 ( Andre S Fairys - Script n Photo )

Senin, 30 Mei 2011



S O W ( SUMUR OMBE WATER )
Kekayaan Alam Blimbing Yang Tak Ternilai

Patut kita agungkan Puji Syukur pada yang Kuasa Allah SWT, Sebuah karunia sumber air murni yang sangat tak ternilai harganya ada di di bumi Blimbing tercinta. Dialah sumber air yang kita kenal dengan sebutan " SUMUR OMBE ". Kenapa disebut dengan Sumur Ombe....Karena kegunaan air ini adalah untuk kebutuhan Ngombe ( minum ) but seluruh masyarakat Blimbing dst. Kualitas airnya jernih, bening, tidak ampang, bila diminum walaupun tanpa direbus rasanya segar dan sejuk, apalagi bila di rebus.....wow....makin mantap !. Keunggulan lainya, cara mendapatkannya mudah, sumber airnya tak tak mengenal rotasi pergantian musim, entah itu musim penghujan ( rendeng ) ataupun musim kemarau ( ketigo ), sumur ini tetap mampu mengeluarkan pancaran sumber yang stabil, tidak kering dan tidak melimpah. kendatipun selalu diambil oleh banyak orang dengan ribuan timba ataupun seberapa besarnya abang - abang tukang air mengambil untuk dijual, air sumur ombe tetap mampu memenuhi kebutuhan minum masyarakat Blimbing dan sekitarnya.
Letak geografis sumur ombe yang berada di jantung kota Kelurahan Blimbing ( sekitar 150 M menuju selatan dari Jalan Utama Raya Deandles atau 75 M menuju Utara dari Masjid Nurul Yaqin Blimbing - Lamongan ), tepatnya di sebuah Jalan yang di beri nama sama dengan nama Sumur ini yaitu Jl. Sumur Ombe, adalah sangat mudah sekali untuk di akses langsung. tapi kebiasaan masyarakat di rumah, cukup hanya membeli dari Tukang jualan air ini yang siap menjajakan dan mengantarkan dari rumah ke rumah. Bagi tukang air yang berjualan air Sumur ombe ini pun dengan berjualan air sumur ombe ini adalah sebuah mata pencaharian yang menjanjikan, cukup hanya membayar Rp. 500,- per gerobak bisa di jual dengan Rp. 2.000,- per Pikul ( 1 pikul = 2 Jurigen atau tempat lainya ).
Mengenai sejak kapan keberadaan Sumur Ombe ini ditemukan, belum bisa di ketahui dengan pasti, yang jelas sejak kita masih kecil bahkan sejak Kakek buyut kita dulu sudah ada turun temurun cerita tentang sumur ombe ini serta sudah di nikmati masyarakat Blimbing telah puluhan tahun mungkin. Masyarakat yang mengkonsumsi ini air sumur ombe ini ternyata juga bukan hanya dari warga Blimbing sendiri tapi juga dinikmati masyarakat sekitar seperti Warga brondong, Jompong, Sedayulawas, Dengok, Kandangsemangkon bahkan Paciran yang berjarak 6 Km dari lokasi karena keunggulan mutu air dari Sumur Ombe ini.
Tapi sampai saat ini belum pernah ada kabar para ahli yang mencoba melakukan riset mengenai air ini, tentang bagaimana mutunya ataupun berapa besar debit airnya, kalaupun nanti mungkin sapa tahu air Sumur Ombe ini bisa di kembangkan lagi dengan di produksi dan di kemas sehingga bisa buat kebutuhan yang lebih luas lagi tentunya dengan tujuan bukan Eksploitasi semata tapi buat kesejahteraan masyarakat Blimbing dst dengan penyerapan dan membuka peluang kesempatan berkarya buat masyarakat.
Penasaran dengan Air Sumur Ombe ? Datang aja Langsung dan buktikan sendiri kualitas rasanya.....................
( Andre S Fairys - Blimbing Metro )
.
foto by. Rizt Antoni n Emha syukroni.